Tanaman yang di Indonesia dikenal sebagai kelor ini secara botani termasuk genus Moringa. Genus Moringa terdiri atas 13 spesies yang telah tersebar di kawasan Selatan Himalaya, pada rentang wilayah India, Sri Lanka, Afrika Timur Laut dan Afrika Barat Daya Selatan, Madagaskar, dan Arab. Spesies yang paling dikenal dan paling banyak tersebar dan dimanfaatkan oleh manusia adalah Moringa pterygosperma Gaerthn (syn. Moringa oleifera Lam). Namun, dengan perjalanan waktu, tanaman Moringa oleifera telah tersebar hampir di semua negara di kawasan tropis, termasuk di sebagian besar wilayah Indonesia. Klasifikasi botani dari tanaman yang dikenal sebagai kelor (Moringa oleifera Lam.) adalah: Kingdom : Plantae; Division : Magnoliophyta; Class : Magnoliopsida; Order : Brassicales; Family : Moringaceae; Genus : Moringa; Species : oleifera

Batang dan Cabang. Tanaman kelor merupakan tanaman tahunan yang tumbuh cepat dan dapat tumbuh hingga mencapai tinggi hampir 10 m, dengan kulit batang berwarna abu-abu atau pucat yang halus atau sedikit kasar. Diameter batangnya dapat mencapai 20-40 cm. Batang umumnya lurus tetapi kadang-kadang tidak terbentuk dengan baik. Pohon kelor tumbuh dengan batang lurus pendek yang dapat mencapai ketinggian 1,5-3 m sebelum mulai bercabang. Cabang-cabang kemudian tumbuh dan berkembang secara tidak teratur dan kanopi berbentuk payung

Daun. Daun kelor menyirip alternate, dua kali atau tiga kali tumbuh sebagian besar di ujung cabang. Panjang daun sekitar 20-70 cm sedangkan panjang tangkai daun sekitar 8-10 cm, dengan warna daun keabu-abuan saat masih muda dan kemudian hijau setelah tumbuh maksimal

Buah dan Biji. Buahnya menyerupai atau berbentuk polong dengan tiga sisi memanjang hingga sekitar 10-60 cm, dan berisikan sekitar 12-35 biji. Walaupun buahnya berbentuk polong, tanaman kelor bukan termasuk tanaman legumenose. Buah akan berubah warna dari hijau saat muda menjadi cokelat saat masak. Saat masak, buah mudah pecah menjadi tiga bagian. Biji kelor berbentuk bundar dengan kulit berwarna coklat yang bersifat semi permeabel. Pada kulitnya terdapat organ menyerupai “sayap” berwarna putih hingga krem yang memanjang dari bawah ke atas biji pada ketiga sisinya. Berat kering setiap biji sekitar 0,3 g dan rasio kernel (isi biji) terhadap kulit biji 75:25 persen atau 3:2

Bunga. Bunganya berwarna putih atau krem dan terkadang memiliki tanda merah. Bunga tumbuh dan berkembang dalam tandan yang panjangnya sekitar 10-25 cm. Bunga berdiameter sekitar 2,5 cm dan mengeluarkan aroma yang cukup harum. Bunga terdiri atas lima helai sepal (kelopak) mengelilingi lima benang sari.

Manfaat Tanaman Kelor

Tanaman kelor banyak memiliki nama istilah, seperti “pohon kehidupan” atau “pohon surga” karena manfaatnya pada lingkungan, manfaat sebagai obat, dan manfaat sebagai bahan makanan yang luar biasa. Julukan lainnya dari tanaman kelor ini adalah pohon serba guna yang daun, bunga, buah, kulit kayu, dan akar semuanya dapat langsung dikonsumsi. Kualitas nutrisi yang terkandung menjadikan tanaman kelor terkenal sebagai tanaman yang dapat memerangi permasalahan malnutrisi.

Ketermanfaatan tanaman kelor pada awalnya yang telah berlangsung sangat lama hanya sebagai sumber sayuran jika bahan sayuran lain (pokok) tidak tersedia. Di beberapa daerah memanfaatkan tanaman kelor hanya sebagai bahan obat alternatif. Oleh karenanya hingga kini, tanaman kelor banyak dijumpai tumbuh atau sengaja ditumbuhkan hanya sebagai tanaman peteduh di halaman rumah, ataupun sebagai pagar pembatas pekarangan atau kebun. Kepentingan tanaman kelor ini semakin meningkat dan terus berkembang dikarenakan produk-produk lain-nya juga dapat ditingkatkan dalam bentuk produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi, seperti minyak kelor (moringa oil). Minyak kelor ini tidak saja bermanfaat sebagai bahan herbal maupun bahan kosmetika, tetapi belakangan ini hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak biji kelor juga berpotensi sebagai alternatif bahan bakar minyak yang tentunya ramah lingkungan. Hal-hal inilah yang menjadikan tanaman kelor semakin menjadi suatu tanaman yang serba guna dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Manfaat tanaman kelor bagi masyarakat kurang mampu, khususnya para petani bermodal usahatani kecil di banyak belahan dunia sudah sangat terasa. Bercocok tanam tanaman kelor membutuhkan sedikit modal investasi, namun pengembangannya dapat menciptakan lapangan kerja, dan dapat diolah tanpa menggunakan bahan kimia. Tanaman kelor dilaporkan oleh banyak peneliti membutuhkan air dan pupuk organik dalam jumlah terbatas, yang terpenting pemberiannya teratur. Pada kondisi demikian, tanaman kelor akan mampu tumbuh dengan dedaunan yang lebat sepanjang tahun.

Pemrosesan atau pengolahan daun kelor menjadi tepung daun (moringa leaf powder) juga akan mem-berikan keuntungan pengembangan tanaman kelor ini. Pengering-an daun cukup dengan memanfaatkan sinar matahari atau hanya dengan mengangin-anginkan saja, suatu metode yang murah dan efisien untuk men-dapatkan hasil yang berkualitas. Penggilingan tidak memerlukan peralatan khusus dan pengemasan harus kedap udara dan kedap cahaya. Aspek dasar pengolahan yang ter-penting adalah kontrol kebersihan dan ke-lembaban untuk memastikan bahwa tepung daun tetap kering sempurna sampai dikemas.

Daun kelor merupakan sumber protein, vitamin, dan mineral yang tidak mahal untuk suatu negara ber-kembang. Daun kelor yang telah dikeringkan ataupun yang telah berupa tepung mudah disimpan dan digunakan oleh keluarga. Penambahan tepung daun kelor ke dalam makanan sehari-hari sangat baik bagi peningkatan kesehatan tubuh.Tepung daun juga dapat digunakan oleh industri pengolahan makanan untuk fortifikasi. Jadi, daun kelor dapat membantu mengurangi ketergantungan negara berkembang pada barang impor yang terlalu mahal. Daun kelor dapat digunakan sebagai sayuran daun seperti layaknya bayam ataupun sayuran daun lainnya. Daun kelor adalah sayuran kaya nutrisi, ekologis, dan ekonomis yang tersedia di hampir semua wilayah di Indonesia. Oleh karena itu pengembangan teknologi budidaya pada berbagai sistim sangat diperlukan, termasuk pengembangan budidaya kelor dalam pot dengan tujuan menyediaan sumber pangan sehat-green super food-keluarga secara berkelanjutan

Daftar Referensi

Amouri, M., Zaid, A., Aziza, M.A., and Zanndouche, O. 2012. Life cycle analysis of Moringa oleifera biodiesel. Congres International sur les Energies Renouvelables et Environment. 19-21 Mart, 2012. Hammamet, Tunisie.

Becker,Klause, 2004. Moringa oleifera – an underutilized tree with amazing versatility. Departement of Horticultura, Faculty of Agriculture, University of Science and Technology, Kumasi – Ghana, West Africa

Bhatia, S. 2007. Coagulation-flocculation process for POME treatment using Moringa oleifera seeds extract: optimization studies. Chem Eng J 133:205–212

Fahey, J.W. 2005. Moringa oleifera: A Review of the Medical Evidence for its Nutritional, Therapeutic, and Prophylactic Properties. Part 1. Trees for life Journal, 1:5, http://www.tljournal.org/article/phyo/20051201124931586

Fuglie, L.J. 1999. The Miracle Tree: Moringa Oleifera; National Nutrition for the Tropics. Church World Service, Dakar. 68 pp. revised in 2001 and published as the miracle tree; the multiple attributes of moringa 172pp. http://www/echotech.org/bookstore/advanced.

Santoso, B.B., I.G.M.A. Parwata, I.N. Soemeinaboedhy. 2017. Pembibitan Tanaman Kelor(Moringa oleifera Lam.) Arga Puji Press. Mataram.

Santoso, B.B. and Parwata, IG.M.A. 2014. Seedling Growth from Stem Cutting with Different Physiological Ages of Jatropha curcas L. of West Nusa Tenggara Genotypes. Int. J. of App. Sci. and Tech. 4(6):5-10.

Bambang Budi Santoso

Kelompok Peneliti Bidang Ilmu Pengembangan Pertanian Lahan Kering, Fakultas Pertanian UNRAM

Share This