Kelor (Moringa oleifera) terdistribusi secara luas di daerah tropis, khususnya Indonesia, tanaman ini tersebar di daerah dengan berbagai kondisi geografi alam. Moringa dapat tumbuh pada dataran rendah sampai dataran tinggi. Tanaman kelor ditanam terutama sebagai tanaman pagar ataupun peneduh halaman.

Pemanfaatan buah dan juga biji kelor di Indonesia belum optimal. Buah kelor terutama yang muda (dikenal dengan sebutan klentang) lazim digunakan sebagai bahan makanan bagi masyarakat Indonesia. Sedangkan bijinya, terutama yang telah tua dan lebih khususnya lagi bagi masyarakat yang telah mengetahuinya, dimanfaatkan sebagai bahan kuogulan dalam penjernihan air. Jadi, dapat dikatakan, minyak biji kelor ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Di beberapa negara minyak biji kelor digunakan sebagai pewangi

Beberapa tahun belakangan ini, hasil penelitian telah menunjukkan bahwa minyak yang tergandung dalam biji kelor dapat dijadikan sebagai bahan alternative biodiesel atau bahan bakar minyak alternatif, dan tentunya berkelanjutan. Selain itu dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan herbal dan bahan kecantikan. Komposisi minyak biji kelor yang berupa asam lemak dan asam oleat yang tinggi menjadikan biji kelor layak menjadi bahan baku biodiesel.

Hasil analisis prosimat biji kelor (% Berat Kering) menunjukkan bahwa Kadar Air 7.2 ± 1.02, Kadar Minyak 30.1 ± 1.59, Kadar Protein 37.3 ± 1.11, Kandungan Abu 6.2 ± 0.13, dan Kandungan Serat 4.3 ± 0.35

Pengambilan minyak dari biji kelor dapat dilakukan cara ekstraksi. Ekstraksi merupakan suatu proses pengambilan kandungan zat yang digunakan dalam suatu fase padatan melalui kontak dengan pelarut. Minyak yang terdapat dalam biji kelor dapat diekstraksi dengan berbagai cara antara lain dengan pemanasan (rendering), pengepresan (pressing), dan dengan penguapan.

Agar supaya rendemen minyak yang diperoleh optimal maka perlu memperhatikan sifat atau karakter biji. Minyak yang berkualitas akan didapatkan dari biji yang telah memiliki sifat fisiologis tertentu dengan tanda-tandanya yang khas, yaitu memilih biji dengan kriteria kesegaran yang ditentukan berdasarkan atas dasar warna dan juga keadaan fisik biji. Biji yang baik adalah biji yang kulit luarnya berwarna coklat muda hingga coklat tua, dengankan bagian dalam inti biji (kernel) berwarna putih. Sedangkan biji yang coklat tua hingga hitam disertai keriput dinilai kurang baik.

 Pada aspek agronomis, kualitas minyak yang ada pada biji kelor sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tersebut adalah:

  1. Tercampurnya biji rusak atau biji berkualitas jelek akan menyebabkan jeleknya kualitas minyak yang dihasilkan dari sekumpulan biji-biji tersebut. Akan menyebabkan minyak cepat rusak dan berbau.
  2. Umini biji. Biji dari buah yang telah tua (masak fisiologis) akan menghasilkan minyak yang lebih baik kualitas dan kuantitasnya dibanding dengan minyak dari biji kelor yang belum masak fisiologis.
  3. Kadar air yang tinggi akibat penyimpanan yang lama akan menghasilkan minyak dengan mutu yang kurang baik.

 

Bambang Budi Santoso

Kelompok Peneliti Bidang Ilmu Pengembangan Pertanian Lahan Kering

dan Pusat Kajian dan Pengembangan Tanaman Sumber Energi

Fakultas Pertanian, Universitas Mataram

.

Share This